Ketentuan Pernikahan
Materi Pelajaran, Pendidikan, Pendidikan Agama Islam

Ketentuan Pernikahan

Ketentuan Pernikahan – Kurikulum Merdeka, Kelas 11, PAI, BAB 9, Ketentuan Pernikahan dalam Islam.


Ketentuan Pernikahan

a. Rukun Pernikahan dan Syarat Pernikahan

Rukun ialah hal yang harus ada ketika pelaksanaan suatu perbuatan. Sedangkan syarat dalam fikih merupakan hal yang harus terpenuhi sebelum melakukan suatu perbuatan tertentu. Rukun menikah ada lima, yaitu: calon suami, calon Istri, wali, dua orang saksi, dan sighat (Ijab dan Qabul). Adapun masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut.

  1. Calon Suami. Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi untuk seorang calon suami, yaitu:
    • Calon suami benar-benar laki-laki;
    • Calon suami bukanlah orang yang haram dinikahi bagi calon istri, baik haram karena nasab, sepersusuan, atau karena ikatan pernikahan;
    • Tidak terpaksa. Tidak sah menikah tanpa ada kehendak sendiri;
    • Calon suami diketahui jelas identitasnya. Sudah diketahui nama beserta orangnya;
    • Tidak sedang melakukan ihram.
  2. Calon Istri. Ada beberapa syarat yang harus terpenuhi untuk calon istri, yaitu:
    • Benar-benar perempuan;
    • Bukan wanita yang haram dinikahi, baik karena nasab, sepersusuan, atau karena ikatan pernikahan;
    • Jelas identitasnya, sudah diketahui nama serta yang mana orangnya oleh calon suami;
    • Tidak sedang melakukan ihram, atau dalam masa ‘iddah.
  3. Wali, syarat menjadi wali pernikahan ialah sebagai berikut:
    • Islam;
    • Baligh (sudah dewasa), tidak sah anak kecil menjadi wali nikah;
    • Berakal sehat;
    • Merdeka, bukan seorang budak;
    • Laki-laki, tidak sah wali dari perempuan;
    • Adil, bukan orang fasiq;
    • Urutan wali adalah Bapak, kakek, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, saudara laki-laki seibu, anak laki-laki dari saudara seayah, anak laki-laki dari saudara kandung, anak laki-laki dari saudara seibu, paman, anak laki-laki paman;
    • Bagi perempuan yang tidak memiliki wali, misalnya wali sudah meninggal, maka walinya adalah pemimpin di daerah tersebut, jika di Indonesia adalah dari pegawai Kantor Urusan Agama (KUA).
  4. Dua orang saksi. Syarat dua orang saksi ini juga hampir sama dengan wali, yakni:
    • Islam;
    • Baligh (sudah dewasa), tidak sah anak kecil menjadi saksi nikah;
    • Berakal sehat;
    • Merdeka, bukan seorang budak;
    • Laki-laki, tidak sah saksi dari perempuan;
    • Adil, bukan orang fasiq.
  5. Sighat (Ijab dan Qabul). Syarat dari ijab-qabul dalam pernikahan adalah:
    • Ijabqabul dilaksanakan dalam keadaan bersambung. Artinya: antara pelafalan ijab dengan qabul (penerimaan) tidak berselang lama.
    • Tidak ditambahi dengan keterangan jangka waktu tertentu. Misalnya saya terima nikah si fulanah dalam waktu sebulan.
    • Lafadz jelas maksudnya, dan tidak disangkutkan dengan makna yang lain. Misalnya saya nikahkan engkau dengan anakku jika engkau tetap menjadi pengusaha.
    • Ijab dan qabul menggunakan kalimat “nikah, tazwij, atau turunannya yang semakna.”
    • Boleh menggunakan bahasa selain bahasa Arab.

Contoh Ijab Qabul

Ijab

Wali perempuan atau penghulu berkata kepada pengantin laki-laki. Di bawah ini adalah contoh menggunakan Bahasa Arab.

أَنْكَحْتُكَ وَزَوَجْتُكَ مَخْطُوبَتَكَ … بِنْتِ … بِمَهْرِ أَدَوَاتِ الصَّلَاةِ وَثَلاثِيْنَ جُزْأً مِنْ مُصْحَفِ الْقُرْاَنِ حَالاً

Jika dilafadzkan dengan bahasa Indonesia:

“Saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu …. binti …. dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 30 juz dari mushaf Al-Qur’an dibayar tunai.”

Qabul

Calon suami menjawab. Apabila menggunakan bahasa Arab sebagai berikut.

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيْجَهَا لِنَفْسِيْ بِالْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ حَالاً

Jika diucapkan menggunakan bahasa Indonesia:

“Saya terima nikah dan kawinnya …. binti …. untuk diri saya sendiri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

b. Orang-orang yang tidak boleh dinikahi

Adapun orang-orang yang tidak boleh dinikahi dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Mahram (Perempuan yang haram untuk dinikahi)
Muabbad (Haram selamanya)Ghairu Muabbad (haram selama masih ada ikatan pernikahan)
Senasab (keturunan)Radha’ah (sepersusuan)Ikatan Pernikahandinikahi keduanya
1. Ibu kandung dan seterusnya ke atas.1. Ibu yang menyusui.1. Mertua (Ibu dari istri)1. Saudara perempuan dari istri (sekandung, seayah, atau seibu)
2. Anak perempuan kandung dan seterusnya ke bawah (cucu dan seterusnya)2. Saudara perempuan sepersusuan.2. Anak tiri (anak dari istri dengan suami lain), apabila suami sudah pernah berkumpul dengan ibunya.2. Saudara sepersusuan istri
3. Saudara perempuan sekandung (sekandung, sebapak saja atau seibu saja)3. Istri dari ayah (Ibu tiri), kakek, dan seterusnya ke atas) baik sudah dicerai atau belum.3. Bibi dari istri (baik dari jalur ayah maupun ibu)
4. Saudara perempuan dari ibu (baik yang sekandung, seayah, atau seibu)4. Istri anak laki-laki (menantu)4. Keponakan perempuan dari istri (anak dari saudara sang istri)
5. Saudara perempuan dari bapak (baik yang sekandung, seayah, atau seibu)
6. Anak perempuan dari saudara laki-laki dan seterusnya ke bawah.
7. Anak perempuan dari saudara perempuan dan seterusnya ke bawah.

c. Pernikahan yang tidak sah

Di antara pernikahan yang tidak sah dan dilarang oleh Rasulullah Saw. adalah sebagai berikut:

1. Pernikahan Mut’ah

Pernikahan Mut’ah, yaitu pernikahan yang dibatasi untuk jangka waktu tertentu, baik sebentar ataupun lama. Imam Madzhab empat sepakat bahwa pernikahan ini haram dilakukan. Secara historis diperbolehkannya nikah mut’ah oleh Rasul ini karena umat Islam waktu itu berada dalam masa transisi, yaitu peralihan dari masa Jahiliyah menuju Islam. Praktik perzinaan pada masa jahiliyah sudah membudaya, sementara Islam datang dan Rasul menyeru umat Islam untuk berperang, maka keadaan jauhnya pejuang muslim dari istri-istri mereka tentu saja merupakan suatu penderitaan tersendiri. Kebolehan ini berlangsung hingga datangnya hadis Nabi sebagai nasikh (penghapus) atas kebolehan nikah tersebut. Dasarnya adalah hadis yang terdapat dalam Kitab al-Jami’ al-Shahih Juz 3 Nomor 4216 berikut ini:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الإِنْسِيَّةِ (رواه البخاري)

Artinya:

“Dari ‘Ali bin Abu Thalib ra bahwa Rasulullah saw melarang nikah mut’ah (perkawinan dengan waktu terbatas semata untuk bersenang-senang) dan melarang makan daging keledai jinak pada perang Khaibar.” (H.R. al-Bukhari)

2. Pernikahan Syighar

Pernikahan syighar, yaitu pernikahan dengan persyaratan barter tanpa pemberian mahar. Dasarnya adalah hadis nomor 1415 yang disebutkan dalam Kitab Shahih Muslim berikut:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الشِّغَارِ وَالشِّغَارُ أَنْ يُزَوِّجَ الرَّجُلُ ابْنَتَهُ عَلَى أَنْ يُزَوِّجَهُ ابْنَتَهُ وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا صَدَاقٌ (رواه مسلم)

Artinya:

“Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw melarang nikah syighar, yaitu seseorang menikah dengan putri orang lain dengan syarat putrinya harus menikah dengannya tanpa ada maskawin.” (H.R. Muslim)

3. Pernikahan Muhallil

Pernikahan muhallil, yaitu seseorang menikahi wanita yang telah dicerai tiga kali oleh suaminya untuk diceraikan lagi agar halal dinikahi kembali oleh suaminya yang pertama, dan ini dilakukan atas perintah suami pertama tersebut. Hal ini ditegaskan dalam hadis Nomor 1120 dalam Kitab Sunan al-Tirmidzi Juz 3 disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُحَلِّلَ وَالْمُحَلَّلَ لَهُ (رواه الترمذي)

4. Pernikahan orang yang sedang ihram

Pernikahan orang yang sedang ihram, baik ihram Haji atau Umrah serta belum memasuki waktu tahallul. Dalam Kitab Shahih Muslim, Nabi Muhammad Saw. bersabda:

فَقَالَ أَبَانُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ وَلَا يَخْطُبُ (رواه مسلم)

5. Pernikahan dalam masa iddah

Pernikahan dalam masa iddah, yaitu pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang masih dalam masa iddah, baik karena bercerai atau suami meninggal dunia. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَعْزِمُوْا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتّٰى يَبْلُغَ الْكِتٰبُ اَجَلَهٗ ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوْهُ ۚوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ

Artinya:

“Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Q.S. al-Baqarah/2: 235)

6. Pernikahan tanpa wali

Pernikahan tanpa wali, yaitu pernikahan yang dilakukan seorang laki-laki dengan seorang wanita tanpa dihadiri walinya. Rasulullah saw. Bersabda yang tertulis di dalam Kitab Sunan Abi Dawud, juz 2 nomor 2085:

عَنْ أَبِي مُوسَى أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ (رواه ابوداود)

Artinya:

Dari Abu Musa bahwa Nabi saw bersabda: “Tidak ada (tidak sah) pernikahan kecuali dengan wali.” (H.R. Abu Daud)

7. Pernikahan dengan wanita musyrik (menyekutukan Allah)

Pernikahan dengan wanita musyrik (menyekutukan Allah), berdasarkan firman Allah Swt.:

وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ

Artinya:

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (Q.S. al-Baqarah/2: 221)

8. Menikahi mahram

Menikahi mahram, baik mahram untuk selamanya, mahram karena pernikahan atau karena sepersusuan. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ حَرَّمَ مِنَ الرَّضَاعِ مَا حَرَّمَ مِنَ النَّسَبِ (رواه الترمذي)

Artinya:

“Dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda sesungguhnya Allah mengharamkan sebab persusuan seperti yang diharamkan sebab keturunan.” (H.R. at-Tirmidzi)

Adapun siapa saja mahram yang dilarang dinikahi terdapat dalam Q.S. al-Nisa’/4: 22-23 sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya dalam tabel orang-orang yang haram dinikahi.

d. Hak dan Kewajiban Suami Istri

Untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, suami dan istri harus saling memahami hak dan kewajiban sebagai suami istri.

Adapun kewajiban suami kepada istri, yaitu:

  1. Memberi tempat tinggal yang layak kepada istri sesuai dengan kemampuan (lihat Q.S. al-Thalaq/65: 6);
  2. Memberi nafkah istri menurut kemampuan suami (lihat Q.S. al-Thalaq/65: 7);
  3. Berinteraksi dengan istri secara ma’ruf (baik), yaitu dengan cara yang baik dan penuh kasih sayang, saling menghargai, dan memahami kondisi istri;
  4. Menjadi pemimpin keluarga, dengan cara membimbing, mengarahkan, mendidik, memelihara seluruh anggota keluarga dengan penuh tanggung jawab; (Lihat Q.S. al-Nisa’/4: 34);
  5. Membantu istri dalam melaksanakan tugas sehari-hari, terutama dalam merawat, memelihara, dan mendidik putra putrinya agar menjadi anak yang shaleh dan shalehah. (Lihat Q.S. al-Tahrim/66: 6).

Sedangkan kewajiban istri kepada suami adalah:

  1. Patuh dan taat kepada suami sesuai dengan ajaran agama Islam. Apabila suami memerintahkan untuk melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka istri tidak wajib ditaati;
  2. Memelihara dan menjaga kehormatan diri sebagai seorang istri dan keluarga serta harta benda suami, baik suami berada di rumah atau di luar rumah;
  3. Mengelola rumah tangga dengan baik sesuai dengan tugas dan fungsi sebagai seorang istri;
  4. Memelihara, merawat, dan mendidik anak terutama pendidikan agama. Allah Swt., berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Q.S. At-Tahrim/66: 6).

e. Mahar (Maskawin)

Mahar atau maskawin terkadang disebut nihlah atau shadaq, yang berarti sesuatu yang diwajibkan karena pernikahan, yakni harta atau apapun yang diberikan oleh laki-laki dan menjadi hak milik perempuan/istri. Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Hashni dalam Kifayah al-Akhyar fi Hilli Ghayah al-Ikhtishar menjelaskan bahwa walaupun menyebutkan mahar dalam akad nikah sunnah hukumnya, tetapi wajib diberikan oleh laki-laki dalam sebuah pernikahan. Sebagaimana firman Allah Swt:

وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً

Artinya:

“Berikanlah maskawin kepada perempuan-perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan…” (Q.S. al-Nisa’/4: 4)

Dalam hadis pun Nabi Muhammad Saw. menjelaskan:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ، فَقَالَتْ: إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلهُ وَلِرَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: مَا لِي فِي النِّسَاءِ مِنْ حَاجَةٍ ، فَقَالَ رَجُلٌ: زَوِّجْنِيْهَا، قَالَ: أَعْطِهَا ثَوْبًا، قَالَ: لَا أَجِدُ، قَالَ: أَعْطِهَا وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ، فَاعْتَلَّ لَهُ، فَقَالَ: مَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ قَالَ: كَذَا وَكَذَا، قَالَ: فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ (رواه البخاري)

Artinya:

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad, ia berkata: seorang perempuan datang kepada Nabi saw, ia berkata saya memberikan diri saya untuk Allah dan Rasul-Nya, lalu Nabi menjawab saya tidak ada kebutuhan kepada perempuan ini. Salah satu sahabat berkata nikahkanlah ia denganku wahai Rasul. Maka Nabi saw menjawab berilah perempuan ini pakaian. Sahabat tadi menjawab, saya tidak memilikinya. Nabi berkata lagi berikanlah kepada perempuan ini meskipun cincin besi. Sahabat tadi pun memberikan alasannya kepada Nabi. Lalu Nabi bertanya surat apakah yang kamu hafal dari al-Qur’an. sahabat tadi menjawab surat ini dan itu. Maka Nabi pun berkata saya nikahkan kamu dengan perempuan ini dengan hafalan surat al-Qur’an yang kamu miliki. (H.R. Al-Bukhari)

Bentuk dan besaran mahar diserahkan kepada kepada calon mempelai laki-laki dan perempuan. Tidak ada keharusan apakah harus sama, melebihi ataupun kurang dari mahar yang menjadi kebiasaan di daerah tersebut, karena yang dijadikan ukuran dari sebuah mahar adalah kerelaan antara kedua calon pengantin. Tidak ada batasan maksimal ataupun minimal sebuah mahar. Segala sesuatu baik uang, benda, atau apapun yang dapat memberikan manfaat dapat dijadikan sebagai mahar pernikahan.

f. Resepsi Pernikahan (walimatul ‘urs)

Walimatul ‘urs atau sering disebut dengan resepsi pernikahan. Kata Walimah secara bahasa berarti berkumpul. Sedangkan menurut istilah syari’ah yang dijelaskan Ahmad bin ‘Umar al-Syathiri dalam kitab al-Yaqut al-Nafis adalah nama untuk setiap undangan atau makananan dan minuman yang diadakan karena adanya kebahagiaan atau lainnya. Hukum mengadakan walimah menurut Mushthafa Dib al-Bugha’ dalam kitab al-Tadzhib fi Adillah Matn al-Ghayah wa al-Taqrib adalah sunnah, dan wajib hukumnya memenuhi undangan walimah tersebut, kecuali jika ada ‘udzur/halangan.

Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَثَرَ صُفْرَةٍ، فَقَالَ: مَا هَذَا قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ. إِنِّي تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ، قَالَ: فَبَارَكَ اللهُ لَكَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ (رواه مسلم)

Artinya:

Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Nabi saw melihat bekas kekuningan pada ‘Abdurrahman bin ‘Auf, lalu beliau bertanya, apakah ini? ‘Abdurrahman bin ‘Auf menjawab ya Rasulullah sesungguhnya aku telah menikahi perempuan dengan maskawin senilai satu biji emas. Nabi saw berkata: semoga Allah memberkahimu, selenggarakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing. (H.R. Muslim)

Hadis di atas menjelaskan walimah dapat dilakukan dengan makanan yang sangat sederhana, tidak ada batasan khusus tentang makanan yang akan disajikan, tetapi menurut pendapat ulama yang lebih utama sekurang-kurangnya dengan menyembelih satu ekor kambing. Walimah disunnahkan bagi mempelai laki-laki juga perempuan, karena adanya kebahagiaan dari kedua belah pihak. Seseorang yang mengadakan walimah wajib menjauhkan diri dari berlebihan/mubadzir.

Tujuan dari walimah adalah untuk mengumumkan pernikahan dan sebagai bentuk syukur atas kebahagiaan yang diperoleh dengan cara berbagi dengan sesama. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَعْلِنُوْا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوْا عَلَيْهِ بِالدُّفُوْفِ (رواه الترمذي)

Artinya:

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, Rasulullah saw bersabda, siarkanlah pernikahan ini dan lakukanlah di masjid-masjid dan mainkanlah dengan rebana. (H.R. Al-Tirmidzi)


Itulah materi tentang Ketentuan Pernikahan. Semoga materi ini dapat membantu Anda dalam belajar, dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *